Rabu, 13 Mei 2026

Bukan Darwinisme: Menguak Konsep "Evolusi Teistis" Tanpa Menabrak Al-Qur'an


 


Bukan Darwinisme: Menguak Konsep "Evolusi Teistis" Tanpa Menabrak Al-Qur'an


Ketika mendengar kata "evolusi", mayoritas orang akan langsung mengaitkannya dengan Charles Darwin dan bukunya, The Origin of Species (1859). Di dunia Islam, topik ini kerap memicu resistensi karena Darwinisme sering diposisikan sebagai pilar materialisme yang menolak keterlibatan Tuhan dan menganggap manusia murni hasil kebetulan biologis dari nenek moyang yang sama dengan kera.

Namun, sejarah sains mencatat fakta sekunder yang sering terlupakan: berabad-add sebelum Darwin lahir, para pemikir Muslim klasik telah mendiskusikan konsep kemunculan makhluk hidup secara bertahap. Bedanya, mereka merumuskannya dalam bingkai "Evolusi Teistis"—sebuah konsep perubahan organik yang digerakkan oleh kehendak Sang Pencipta, yang secara fundamental tidak menabrak narasi penciptaan di dalam Al-Qur'an.

Rantai Eksistensi Menurut Al-Tusi dan Ibnu Khaldun

Dua nama besar yang paling lantang membahas keterkaitan antarmakhluk hidup ini adalah Nasiruddin al-Tusi (abad ke-13) dan Ibnu Khaldun (abad ke-14).

Dalam kitab Akhlaq-i-Nasiri, Al-Tusi menjelaskan bahwa alam semesta tidak diciptakan dalam kondisi statis, melainkan berkembang secara bertahap dari elemen yang sederhana menuju yang kompleks. Ia membagi hierarki penciptaan dari dunia mineral (benda mati) yang lambat laun naik kelas ke dunia tumbuhan, lalu berkembang ke dunia hewan karena memiliki kemampuan bergerak dan merespons.

Satu abad kemudian, sosiolog terkemuka Ibnu Khaldun mempertegas pola ini dalam karya monumentalnya, Muqaddimah. Beliau menulis sebuah paragraf yang sangat visioner:

"Dunia makhluk hidup dimulai dari mineral, lalu berkembang ke tumbuhan, kemudian hewan dengan cara yang mengagumkan... Dunia hewan kemudian meluas, golongannya berlipat ganda, dan dalam proses bertahap, ia berakhir pada manusia yang memiliki kemampuan berpikir dan refleksi."

Ibnu Khaldun bahkan mengamati bahwa akhir dari dunia hewan (seperti kera) secara fisik berbatasan langsung dengan awal mula dunia manusia. Namun, di sinilah letak batas tegas yang memisahkan pandangan mereka dari Darwinisme.

Jurang Pemisah dengan Darwinisme

Meskipun sekilas mirip karena sama-sama melihat adanya struktur gradasi makhluk hidup, "Evolusi Teistis" para ilmuwan Muslim memiliki arah filosofis yang bertolak belakang dengan Darwinisme:

• Mekanisme Penggerak: Darwinisme bersandar pada seleksi alam, mutasi genetik acak, dan perjuangan bertahan hidup yang bersifat materialistik (tanpa tujuan khusus). Sebaliknya, Al-Tusi dan Ibnu Khaldun melihat perubahan ini sebagai desain teleologis—sebuah rancangan besar Allah yang menuntun makhluk hidup bertransisi menuju kesempurnaan fisik dan spiritual.

• Asal-Usul Manusia: Bagi Darwin, manusia berada di garis keturunan yang sama dengan primata melalui proses acak. Bagi Ibnu Khaldun, meskipun manusia memiliki kemiripan material atau karakteristik fisik tertentu dengan kerajaan hewan, manusia adalah lompatan ciptaan yang berbeda. Manusia memiliki akal dan jiwa (ruh) yang independen dan ditiupkan langsung oleh Allah, bukan sekadar hasil akumulasi evolusi fisik.

Menyelaraskan dengan Wahyu Al-Qur'an

Mengapa konsep yang dibawa Al-Tusi dan Ibnu Khaldun ini tidak menabrak teks Al-Qur'an? Jawabannya terletak pada cara pandang Islam terhadap ruang, waktu, dan proses pembentukan makhluk hidup yang memang terekam di beberapa ayat:

• Penciptaan yang Bertahap (Gradual)
Al-Qur'an tidak selalu menggambarkan penciptaan terjadi secara instan (sekali jadi). Allah menggunakan sunnatullah berupa proses panjang yang runtut, salah satunya terekam dalam Surah Nuh ayat 14:

وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

"Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian)." (QS. Nuh: 14)

• Materi Dasar yang Sama (Air)
Al-Qur'an meletakkan fondasi bahwa semua makhluk hidup memang berbagi cetak biru material yang sama dari air. Hal inilah yang menjelaskan mengapa ada kemiripan fungsional serta biologis antara satu spesies dengan spesies lainnya:

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

"Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (QS. Al-Anbiya: 30)

• Mukjizat Nafasan Ruh pada Manusia
Konsep evolusi teistis tetap menghormati status khusus manusia pertama (Nabi Adam AS). Tubuh biologis manusia mungkin dirajut dari unsur-unsur bumi (thin) yang juga menyusun materi organik lain, tetapi esensi kemanusiaan ditiupkan langsung lewat intervensi spiritual Sang Pencipta:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (QS. Al-Hijr: 29)

Kesimpulan

Judul "Bukan Darwinisme" menjadi sangat relevan karena konsep yang ditawarkan oleh khazanah Islam klasik adalah evolusi yang menempatkan Tuhan sebagai sutradara tunggal peradaban. Bagi Al-Tusi dan Ibnu Khaldun, keteraturan dan transisi antarmakhluk hidup adalah bukti nyata dari kebesaran Rabbul 'Alamin dalam mengelola alam semesta.

Sains Islam abad pertengahan berhasil membuktikan bahwa kita bisa mengagumi keteraturan biologis di alam tanpa harus menepikan eksistensi Tuhan, dan kita bisa membaca sejarah bumi tanpa harus meragukan kebenaran Al-Qur'an.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perisai Sempurna Muslimah: Keselarasan Jilbab, Hijab, dan Cadar dalam Tinjauan Syariat dan Sains

  Perisai Sempurna Muslimah: Keselarasan Jilbab, Hijab, dan Cadar dalam Tinjauan Syariat dan Sains https://konvergenalquransains.blogspot.co...