Membaca Ulang Hubungan Islam dan Pikiran: Bantahan Terhadap Syubhat "Agama Takut Orang Berpikir"
Sebuah narasi usang sering kali didaur ulang untuk menyudutkan institusi agama. Narasi tersebut mengklaim bahwa agama tegak di atas ketakutan, dogma, dan ilusi, sehingga musuh terbesar agama bukanlah orang jahat, melainkan orang yang berpikir. Untuk mendukung klaim ini, sejarah digeneralisasi dan tokoh-tokoh seperti Galileo Galilei hingga Umar Khayyam diseret sebagai korban pembungkaman. Namun, jika juri objektivitas kita arahkan kepada ajaran Islam dan sejarah peradaban murni yang dibawanya, narasi tersebut runtuh seketika. Islam tidak pernah takut pada pikiran; Islam justru lahir untuk membebaskan pikiran.
1. Islam Menolak Dogma Buta dan Budaya Taqlid
Tuduhan bahwa agama mengagungkan kepatuhan buta demi melanggengkan kekuasaan sangat bertolak belakang dengan prinsip Islam. Sejak awal, Al-Qur'an diturunkan untuk mendobrak dogma kuno dan tradisi nenek moyang yang dianut tanpa dasar rasional (taqlid). Islam melarang manusia bersikap ikut-ikutan tanpa validasi ilmu [^1].
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Isra': 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ٣٦
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya."
Lebih jauh, Al-Qur'an mengecam keras mereka yang menolak berpikir kritis hanya karena ingin menjaga warisan masa lalu melalui QS. Al-Baqarah: 170:
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَاۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ ١٧٠
"Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,' mereka menjawab: '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami'. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?"
2. Akal dan Sains Sebagai Jalan Menuju Iman
Islam tidak membangun otoritasnya di atas rasa takut, melainkan di atas argumen yang sahih (hujjah). Al-Qur'an secara terbuka menantang siapa pun yang meragukan ajarannya untuk membawa bukti-bukti logis mereka [^2]. Tantangan ini termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 111:
قُلْ هَاتُوا۟ بُرْهَٰنَكُمْ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
"Katakanlah: 'Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar'."
Bagi Islam, aktivitas berpikir, merenung, dan meneliti alam semesta (sains) bukanlah ancaman, melainkan perintah ibadah. Al-Qur'an memuji orang-orang yang menggunakan akalnya untuk mengobservasi alam semesta (Ulul Albab), sebagaimana tertulis dalam QS. Ali 'Imran: 190-191:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ١٩٠ الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ١٩١
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi..."
Sebaliknya, mereka yang enggan menggunakan rasionya justru dinilai sebagai makhluk yang buruk di hadapan Tuhan [^3]. Allah menegaskan dalam QS. Al-Anfal: 22:
۞ إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَّآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ٱلصُّمُّ ٱلْبُكْمُ ٱلَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
"Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan bisu yang tidak mengerti (tidak menggunakan akalnya)."
3. Kepatuhan Berbasis Kecerdasan, Bukan Intimidasi
Klaim bahwa agama lebih mudah memuliakan orang yang sekadar patuh daripada yang berpikir adalah kekeliruan besar. Dalam Islam, derajat tertinggi justru diberikan kepada orang yang mengintegrasikan antara iman dan ilmu pengetahuan [^4]. Kepatuhan seorang Muslim lahir setelah akalnya memvalidasi kebenaran wahyu.
Allah menegaskan kedudukan para pemilik ilmu dalam QS. Al-Mujadilah: 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ١١
".... Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. ...."
Bahkan, rasa takut dan ketundukan yang sejati kepada Allah hanya bisa dicapai melalui jalur kecerdasan dan ilmu pengetahuan, bukan kebodohan [^5]. Hal ini dinyatakan dalam QS. Fatir: 28:
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ ٢٨
".... Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu). ...."
4. Kekeliruan Kronologis dan Generalisasi Sejarah
Penulis syubhat tersebut melakukan kesalahan fatal berupa bias sejarah (anakhronisme) dan generalisasi mutlak.
• Kasus Galileo Galilei: Peristiwa dipaksanya Galileo berlutut dan pengekangan ilmuwan adalah noktah hitam sejarah Abad Pertengahan di Eropa Barat (trauma hubungan gereja dan sains), bukan sejarah peradaban Islam [^6]. Di belahan dunia Islam pada era yang sama (Islamic Golden Age), para ilmuwan justru dibiayai oleh negara. Otoritas kekhalifahan mendirikan Baitul Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) sebagai pusat riset, laboratorium, dan penerjemahan filsafat serta sains tanpa rasa takut kehilangan kekuasaan [^7].
• Kasus Umar Khayyam: Mengklaim Umar Khayyam "dipinggirkan" karena kecerdasannya adalah fiksi sejarah. Beliau adalah ilmuwan yang sangat dihormati di masanya. Otoritas Muslim (Sultan Malik-Shah I dan Wazir Nizam al-Mulk) justru memfasilitasi Khayyam untuk memimpin observatorium besar di Isfahan dan mendesain Kalender Jalali—sebuah kalender surya yang tingkat akurasinya melampaui kalender masehi pada zamannya [^8].
• Kasus Salman Rushdie: Kasus ini bukan bentuk ketakutan agama terhadap sebuah buku atau pikiran kritis. Kasus ini murni masalah pertanggungjawaban hukum atas tindakan penistaan (blasphemy), pembunuhan karakter, dan penyebaran fitnah keji terhadap figur suci. Bahkan dalam konvensi hukum modern dan hak asasi internasional sekalipun, kebebasan berpikir dan berekspresi dibatasi oleh regulasi yang melarang ujaran kebencian (hate speech) dan pencemaran nama baik yang dapat memicu konflik sosial [^9].
Kesimpulan
Islam tidak pernah menempatkan kecerdasan sebagai musuh keimanan. Narasi yang menuduh agama takut pada orang yang berpikir hanyalah upaya memproyeksikan trauma sejarah peradaban lain ke dalam Islam. Di dalam Islam, buku, pena, riset, dan pertanyaan kritis adalah instrumen utama untuk meruntuhkan ilusi dan mitos, guna mengantarkan manusia pada kebenaran hakiki. Islam tidak pernah retak karena manusia mulai bertanya; Islam justru runtuh di hati pemeluknya ketika mereka berhenti berpikir.
Catatan Kaki:
[^1]: Lihat Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-Azhim, Jilid 5, hlm. 76. Beliau menjelaskan bahwa Allah melarang berbicara atau bertindak tanpa landasan dasar ilmu pengetahuan yang pasti (al-yaqin), serta melarang keras dugaan kosong (al-wahm) atau ikut-ikutan tanpa dalil (taqlid).
[^2]: Lihat Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Jilid 2, hlm. 68. Ayat ini menjadi dalil kewajiban menggunakan nalar logis (al-istidlal) dalam menguji sebuah klaim kebenaran.
[^3]: Lihat As-Sa'di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, hlm. 317. Beliau menegaskan bahwa manusia yang tidak menggunakan fungsi pendengaran, penglihatan, dan akalnya untuk memahami kebenaran kedudukannya lebih rendah daripada hewan ternak.
[^4]: Lihat Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid 1, Kitab al-Ilmi, Bab 1 tentang keutamaan ilmu dan belajar.
[^5]: Lihat Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Miftah Dar as-Sa'adah, Jilid 1, hlm. 233. Beliau memaparkan hubungan linier bahwa semakin luas ilmu seseorang terhadap penciptaan dan syariat Allah, maka akan semakin besar pula rasa pengagungan (khasyyah) di dalam hatinya.
[^6]: Mengenai konflik sejarah sains dan gereja di Barat, lihat John William Draper, History of the Conflict Between Religion and Science (New York: D. Appleton and Co., 1874).
[^7]: Mengenai sejarah keemasan sains dalam Islam, lihat George Sarton, Introduction to the History of Science (Baltimore: Carnegie Institution of Washington, 1927); lihat juga Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam (Harvard University Press, 1968).
[^8]: Terkait biografi dan posisi kehormatan Umar Khayyam di istana Seljuk, lihat Al-Qifthi, Tarikh al-Hukama, hlm. 243-244. Lihat juga versi modern dalam jurnalisme sejarah sains: Edward FitzGerald, The Rubaiyat of Omar Khayyam (Preface on Khayyam's life as an astronomer under Sultan Malik-Shah).
[^9]: Bandingkan dengan batasan kebebasan berekspresi internasional dalam International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) Pasal 19 ayat 3 dan Pasal 20, yang melarang segala bentuk penyebaran kebencian berbasis agama atau ras yang menghasut diskriminasi atau kekerasan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar