Mencium Hajar Aswad VS Objectophilia ( Objectum Sexuality )
Menyamakan tindakan mencium Hajar Aswad dengan objectophilia (objectum sexuality) adalah sebuah kekeliruan logika dan kegagalan dalam memahami batas antara ritual teologis dan kondisi psikologis. Meskipun keduanya melibatkan interaksi fisik antara manusia dan benda mati, akar penyebab, manifestasi emosional, dan tujuan dari kedua fenomena ini berada di dua kutub yang sepenuhnya berbeda.
1. Definisi dan Karakteristik Dasar
🔸 Mencium Hajar Aswad
Sebuah tindakan ritual (ta'abudi) yang dilakukan oleh umat Muslim saat melakukan Tawaf di Ka'bah. Tindakan ini murni didasari oleh aspek spiritualitas, keimanan, dan kepatuhan terhadap ajaran agama Islam.
🔸 Objectophilia:
Sebuah orientasi emosional, romantis, dan seksual di mana seorang individu merasakan ketertarikan mendalam terhadap objek mati tertentu (misalnya jembatan, menara, atau boneka). Individu tersebut menganggap objek tersebut memiliki jiwa (animisme) dan kepribadian.
2. Analisis Perbandingan Konstruktif
Untuk memahami mengapa kedua hal ini tidak bisa disamakan, kita dapat membedah perbedaannya melalui lima dimensi interaksi manusia berikut ini:
🔸 Akar Motivasi
Mencium Hajar Aswad didasari oleh ketaatan teologis dan keinginan meneladani (ittiba') sunah Nabi Muhammad ﷺ, sedangkan objectophilia dipicu oleh ketertarikan neuropsikologis, kebutuhan emosional, serta pemenuhan hasrat pribadi.
🔸 Hasrat Seksual
Dalam ritual mencium Hajar Aswad, gairah fisik, libido, maupun fantasi seksual sama sekali tidak ada, sementara pada fenomena objectophilia, hasrat seksual, sensasi erotis, dan kebutuhan biologis terhadap objek justru hadir secara nyata.
🔸 Hubungan Romantis
Pelaku ritual Thawaf tidak memiliki ikatan asmara dan tidak menganggap batu tersebut sebagai pasangan, sedangkan individu dengan objectophilia merasakan jatuh cinta yang mendalam hingga memiliki komitmen romantis untuk "menikahi" objek tersebut.
🔸 Sifat Interaksi
Interaksi dengan Hajar Aswad bersifat kolektif, ritualistik, serta dibatasi oleh waktu dan aturan ibadah yang ketat, sebaliknya interaksi dalam objectophilia bersifat sangat individual, personal, obsesif, dan berlangsung secara terus-menerus.
🔸 Pandangan Terhadap Objek
Umat Muslim memandang Hajar Aswad sebagai batu biasa yang berfungsi sebagai simbol sejarah dan penanda awal hitungan Tawaf, sedangkan pelaku objectophilia menganggap benda mati tersebut hidup, memiliki perasaan, dan mampu membalas cinta manusia.
3. Esensi Tauhid: Batu yang Tidak Memberi Manfaat maupun Mudharat
Perbedaan paling mendasar terletak pada ideologi di balik tindakan tersebut. Umat Islam tidak pernah mendewakan, menyembah, atau memiliki keterikatan emosional romantis kepada Hajar Aswad. Islam adalah agama tauhid yang melarang keras penyembahan atau pengkultusan terhadap materi atau benda.
Prinsip ketauhidan ini terekam kuat dalam perkataan perkataan shahabat Nabi sekaligus Khalifah kedua Islam, Umar bin Khattab, saat berada di hadapan Hajar Aswad:
إِنِّي لأَعْلَمُ أَنَّكِ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ، وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكِ مَا قَبَّلْتُكِ
"Sesungguhnya aku tahu bahwa kamu hanyalah sekadar batu yang tidak dapat memberikan mudarat (bahaya) dan tidak pula mendatangkan manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah ﷺ menciummu, niscaya aku tidak akan pernah menciummu." (HR. Bukhari nomor 1597 dan Muslim nomor 1270).
Nukilan hadits di atas menegaskan bahwa tindakan mencium Hajar Aswad murni merupakan bentuk kepatuhan terhadap ketetapan syariat (ta'abbudi) dan aspek historis, bukan karena adanya keterikatan nafsu, pesona fisik, atau daya tarik personal dari objek tersebut.
Kesimpulan
Mencium Hajar Aswad adalah ekspresi penghambaan kepada Ilahi melalui simbolisme yang dicontohkan oleh Nabi. Sementara itu, objectophilia adalah anomali psikologis di mana objek mati menggantikan posisi manusia dalam hubungan interpersonal dan seksual. Mencampuradukkan keduanya adalah bentuk penyederhanaan yang keliru (oversimplification), karena mengabaikan dimensi spiritualitas, akal sehat, dan teologi yang melandasi ibadah umat Islam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar